Kubah Budaya Gelar Diskusi dan Nobar Film Dokumenter, Soroti Masalah Lingkungan dan Energi di Banten
... menit baca
SERANG– Isu lingkungan hidup di Provinsi Banten kembali menjadi perhatian publik. Di tengah maraknya pemberitaan tentang kerusakan lingkungan akibat aktivitas galian C dan proyek geotermal, persoalan di wilayah Banten masih terus berlangsung dan belum menemukan titik terang.
Merespons hal tersebut, komunitas Kubah Budaya menggelar acara diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter bertajuk "Energi Panas buat Warga Adat & Tanah Jawara di Ambang Bencana". Acara ini berlangsung di Sekretariat Kubah Budaya pada Sabtu, 26 Agustus, dengan tujuan sebagai ruang bertukar pikiran dan pengalaman antarmasyarakat.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah pembicara kompeten di bidangnya, antara lain Bahtiar Rifai (Koordinator Jurnalis Warga Surosowan), Anggita Raissa (Jurnalis Mongabay Indonesia), Wahyu Arya (Pimpinan Redaksi BantenNews), serta Ariel Matanoes (Kepala Biro SCTV).
Dalam kegiatan tersebut, para peserta menyaksikan pemutaran dua film dokumenter. Film pertama, "Energi Panas buat Warga Adat", yang diproduksi Surosowan dan mendokumentasikan dampak pembangunan proyek geotermal di kawasan adat Gedung Endut, Kecamatan Sobang. Film kedua, "Tanah Jawara di Ambang Bencana", yang diproduksi http://BantenNews.com dan menyoroti masifnya aktivitas tambang galian C di wilayah Cilegon yang dinilai merugikan masyarakat serta merusak ekosistem lingkungan sekitar.
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya pembelajaran untuk lebih kritis dalam menyikapi persoalan lingkungan, khususnya menyangkut dampak kebijakan energi dan pertambangan terhadap masyarakat adat serta kelestarian alam.
Salah satu peserta, Ugi Sutikno, menilai kegiatan nobar kemarin berjalan kondusif. Namun ia menyoroti pentingnya menghadirkan keberagaman perspektif dalam diskusi.
"Kegiatan nobar kemarin cukup baik. Kondusif. Namun, perspektif yang disajikan kurang memberikan ruang perbedaan. Dengan menonton film mestinya kita melihat dari berbagai perspektif. Dari sudut pandang kenapa film itu dibuat, apa untungnya kita setelah menonton film dokumenter, setelah kita diskusi apa yang harus kita lakukan," ujar Ugi Sutikno.
Ia juga menegaskan bahwa Kubah Budaya terbuka terhadap kritik dan diskusi yang tajam. "Kami di Kubah Budaya tidak mempermasalahkan kalimat provokatif yang dilontarkan pembicara karena kami paham maksudnya. Kembali ke perspektif di atas. Kita juga mesti bertanya mengapa manusia Banten seperti 'taken for granted' atas isu geotermal? Mengapa ada yang setuju dan tidak setuju atas perusakan lahan? Apakah perihal kapital? Atau apa?"
Ke depan, Ugi Sutikno mendorong agar agenda serupa terus dilanjutkan. "Saran aku acara nobar dapat dilanjutkan. Tujuannya satu. Mengajak orang untuk berpikir melalui ruang visual."
Melalui pemutaran film dan diskusi ini, masyarakat dan mahasiswa berharap kesadaran publik maupun pemerintah terhadap nasib warga terdampak serta keberlanjutan ekosistem di Banten semakin meningkat.
Penulis: Rafif Abbas Pradana
Sebelumnya
...