PERTANYAAN DI RUMAHMU
PERTANYAAN DI RUMAHMU
Karya: Siswandi Suwarsa, S.H
Itulah Purwadi. Umur 39 tahun, ilmuwan fisika rahasia negara, tapi kelakuannya seperti komedian. Rambutnya klimis, kemejanya selalu bermotif aneh, kadang motif atom, kadang motif Candi Prambanan. Ia baru saja menemukan sesuatu yang kolosal: Teori Relativitas Purwadi, sebuah persamaan yang memungkinkan energi nuklir untuk pembangkit listrik dihasilkan dengan limbah hampir nol. Bukan untuk perang, tapi untuk menerangi desa-desa di Batang, Pekalongan, dan Klaten yang masih sering byar-pet.
"Energi itu seperti cinta, harus stabil, tidak boleh meledak-ledak!" Begitu jargonnya.
Petualangan cintanya dimulai bukan di lab, tapi di SMA N 1 Batang.
Hari itu SMA N 1 Batang mengadakan Seminar Nasional: Teknologi dan Kemajuan Perbankan di Tanah Air. Pembicaranya dua orang: Dr. Elynan Cantik, 35 tahun, Doktor IT dari bank swasta terkenal, cantik, cerdas, jilbabnya rapi, kalau menjelaskan blockchain semua siswa melongo. Dan Prof. H. Purwadi sebagai pembicara teknologi energi.
Elynan sedang serius menjelaskan tentang QRIS dan keamanan digital, ketika dari barisan belakang Purwadi menyela,
"Mohon maaf, Bu Doktor. Kalau sistem bank bisa error karena hacker, apakah sistem hati juga bisa error karena jatuh cinta pada pembicara sebelahnya?"
Satu aula SMA N 1 Batang ngakak. Elynan yang biasanya cool, wajahnya memerah.=
"Profesor ini, seminar teknologi atau seminar gombal?" balas Elynan, tapi ia tersenyum.
Sejak detik itu frekuensi mereka nyambung. Elynan yang logis sebagai orang IT Bank, dan Purwadi yang jenaka sebagai fisikawan, ternyata klop.
Selesai seminar mereka ngobrol di kantin sekolah. Elynan tertarik. Cara Purwadi menjelaskan teori relativitas dengan analogi bakso dan es teh itu membuatnya kagum. Tapi Elynan jual mahal. Prinsipnya: "Aku ingin kisah indah dulu sebelum jadi pasangan, Prof. Tidak mau instan seperti transfer BI-Fast."
Purwadi menerima tantangan itu.
Masalahnya, di SMA N 1 Batang itu juga ada Mas Ismuwinarko, S2, guru olahraga. Umur 37, gagah, juara lari 10K se-Jateng. Ia sudah lama menaksir Elynan. Kalau Purwadi menyerang dengan otak dan humor, Ismu menyerang dengan ketulusan.
"Dr. Elynan, saya mungkin tidak bisa jelaskan relativitas, tapi saya bisa ajari cara napas yang benar saat gugup menghadapi cinta," kata Ismu di lapangan.
Konflik asmara itu diselesaikan secara dewasa dan apik.
Suatu sore di tepian Sungai Klaten mereka bertiga duduk. Tidak berantem.
Ismu berkata jujur, "Prof, saya tahu Elynan lebih nyambung sama kamu. Kamu bisa buat dia tertawa dengan ilmu. Saya hanya bisa buat dia sehat."
Purwadi kali ini serius, "Mas Ismu, kamu ajarkan anak-anak Batang dan Pekalongan kuat fisiknya. Saya ajarkan mereka kuat energinya. Kita sama-sama dibutuhkan. Soal Elynan, biar Elynan yang memilih."
Elynan terharu. Ismuwinarko dengan besar hati mundur teratur. "Kalau kalian jadi, undang saya jadi pelatih senam di resepsinya ya, Prof!" Katanya sambil tertawa.
Setelah itu kisah mereka makin romantis. Road trip dari Batang ke Pekalongan untuk uji coba mini reaktor energi bersih. Mampir ke Klaten untuk sosialisasi literasi digital. Selintas ke Jogja, mereka berdebat di depan Candi Prambanan tentang mana yang lebih abadi, cinta atau energi.
Sampai suatu malam di rumah dinas Purwadi di Batang. Rumah itu besar, laboratoriumnya canggih, tapi kosong.
Purwadi menatap Elynan yang sedang memperbaiki server banknya.
"El, rumah tempatku berteduh, kosong. Tak ada kamu. Aku ingin bertamu ke rumahmu, apakah kamu ada di rumahmu?"
Elynan menutup laptopnya. "Rumahku juga kosong, Prof."
"Kalau kamu ada di rumahmu, bolehkah aku bertanya, maukah kamu menikah denganku?"
Elynan diam. Matanya sudah menjawab ya.
"Kalau sudah menikah, bolehkah aku menetap di rumahmu? Atau kamu mau pindah ke rumahku yang kosong agar ada kamu?"
Elynan berdiri, mengambil spidol, dan menulis di papan penuh rumus milik Purwadi. Ia tidak menulis YA atau TIDAK. Ia menulis:
Rumah = Kamu + Aku + Waktu
"Prof," kata Elynan sambil tersenyum penuh misteri, "Jawaban dari pertanyaan di rumahmu itu tidak bisa dijawab sekarang. Ia butuh pembuktian, seperti teori relativitasmu. Besok pagi jam 7, temui aku di Stasiun Tawang Semarang. Kalau kamu datang, kita akan cari rumah itu bersama."
Besok paginya, Stasiun Tawang Semarang hujan deras.
Di peron 3, Dr. Elynan Cantik berdiri dengan koper kecil, menunggu. Di tangannya ada dua tiket: satu ke Batang, satu ke Jogja.
Dari kejauhan klakson kereta berbunyi. Pengumuman berangkat terdengar.
Apakah di antara kerumunan itu ada Prof. H. Purwadi yang berlari dengan kemeja hawainya yang basah kuyup, membawa bunga? Atau peron itu tetap kosong?
Kereta akan berangkat 2 menit lagi. Dan hujan di Semarang semakin deras.
SELESAI
Semarang, 5 Oktober 2026
Biodata Penulis:
Siswandi Suwarsa, S.H. Penulis asal Semarang. Sahabat SMA N 1 Batang.
.png)